Thursday, July 21, 2011

Semburat Ungu



Langit memancarkan semburat ungu. Perpaduan antara awan biru di sore hari, dan juga merah merona saat matahari kembali ke peraduan. Di antara deru lalu lintas ibu kota. Reno memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berusaha sekuat tenaga mengejar perempuan yang ia cintai. Perempuan yang juga ia telah lukai. Baik jiwa maupun raganya. Perempuan cantik bertubuh mungil. Berwajah oriental.

"Sial. Cepat sekali Amel menghilang. Kemana dia? " Maki Reno. Reno menepi di pinggir halte. Tak sampai hitungan detik. Bunyi klakson di belakang mobilnya berdengung kencang. Bergantian. Pertanda Reno harus segera mengendarai mobilnya lagi.

"Dimana kamu, Mel? Dimana? Please pick up my phone.. " Reno mencoba menghubungi Amel lagi. Entah untuk berapa kali. Pria bertubuh tinggi tersebut tak ingin menyerah. Menyerah dengan kata-kata Amel. Bahwa ya, ia memang salah. Bahwa ia memang sampah. Bahwa perselingkuhannya bukan hanya menghancurkan hati Amel. Tapi menghancurkan pernikahan mereka.

"Mau apa lagi kamu?" kata si pemilik suara di seberang telepon. Reno terdiam. Kerongkongannya tercekat luar biasa. Suara itu. Suara perempuan yang tengah terluka. Kehabisan asa. Reno paham. Amel sedang tidak sehat. Dan dia yang membuat Amel sakit.

"Baby.. Where are you now? Kamu ngebut sekali. Menghilang dengan cepat," jawab Reno terbata-bata.

"Aku ada dimana sekarang. Bukan urusan kamu," balas Amel ketus.

"Of course my business! You are my wife. Aku masih suami kamu. Aku berhak tahu kamu ada dimana." Reno merespon dengan nada tinggi. Emosi menghantui dirinya. Ego-nya tersentil.

"None of your business! Urus saja perempuan itu. Perempuan yang masih selalu kamu cintai dalam hati. Perempuan yang selalu hadir. Meski kamu sudah berstatus milikku. Tolong jangan ganggu aku lagi. Aku benci kamu. Benci kamu.. Reno!" teriak Amel.

Tangis Amel meledak. Ia tak kuat menahan emosi. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hanya terasa lemas. Tubuhnya lemas selemas-lemasnya. Seluruh energi tubuhnya terhisap hebat. Perih itu hadir lagi. Marah. Tidak terima dengan perlakuan Reno.


Klik!

Amel menutup sambungan telepon dari Reno. Air matanya bercucuran. Deras. Sesak itu menghimpit relung hatinya. Tangan kanannya memegang perutnya. Sedangkan tangan kiri Amel masih berada di atas kemudi. Perutnya terasa sakit.

"Jangan nangis, nak. Bunda tidak apa-apa. Kamu jangan ikutan emosi. Kamu harus kuat. Kamu harus lebih kuat dari Bunda yaa.." Amel berbisik sambil menunduk ke arah perutnya. Tangan kirinya yang sedari tadi memegang setir seketika berada di atas perutnya. Perutnya masih ramping. Usia kehamilannya menginjak minggu ke-12. Reno sama sekali belum mengetahui Amel tengah mengandung buah hatinya.


"Untuk kamu yang tak bisa setia pada satu nama. Pikirkan lagi apa yang ingin kamu cari di dunia? Bukankah hati tak pernah kehabisan asa? Untuk kamu yang tak bisa setia pada satu hati. Percuma saja kamu mencari hati yang lain. Karena pada akhirnya hanya satu hati yang akan menemani di sisi. Aku benci kamu.. Reno."


*picture was taken from here

4 comments:

3Choose The Painkiller said...

Bener juga tuh..............

stargirl supernova said...

huhuhu terharuu...eh ini bukan lanjutan serial yg kemarin kan ya?

hidung-bertahi-lalat said...

btw.....penasaran lanjutannyaaaaaaaaaa...
tulis lagii dhinnn

mbakdewi said...

Main kesini , menemukan cerprn yg mengharukan.....