Saturday, July 16, 2011
Jalan Menuju Kesucian (lagi)
Untuk masa lalu yang tak bisa diulang. Untuk penyesalan atas sebuah pilihan hidup. Maafkanlah dirimu. Berdirilah tegak lagi. Berjalanlah lagi. Perlahan, langkahkan kakimu kembali berlari. Life goes on . . .
Setiap manusia pasti ada masanya salah melangkah. Setiap manusia ada kalanya berjalan pada jalur berliku. Apa memang harus berputar-putar dahulu? Gak bisa apa langsung ke titik itu? Harus mutar-mutar jalannya? Jalan yang dilewati pun tak sedikit rintangannya. Terkadang, langkah ini menyusuri gang buntu. Alhasil nyasar. Di satu ketika, langkah ini hilang arah. Tak tahu titik mana yang akan dipijak. Hanya berjalan dan terus berjalan mengikuti alur yang ada di hadapannya. Atau kalau beruntung bisa langsung ketemu titik yang dicari. Happ! Mantap. Berpijak di titik yang dicari.
Setiap manusia ada waktunya bersimbah kemaksiatan dan dosa. Manusiawi. Kita adalah manusia. Tempatnya salah dan dosa. Bukan malaikat yang selalu taat setiap detik pada Tuhan. Tapi bukan berarti juga selalu menganggap dosa atau maksiat sebagai hal yang lumrah dikerjakan. Dosa dan maksiat adalah media untuk intropeksi. Jalan untuk menuju kesucian (lagi). Hanya memang, bicara tak semudah mengaplikasikannya. Dibutuhkan energi besar untuk melawan semua itu. Komitmen kuat untuk memperbaiki diri, serta kegigihan untuk mengendalikan diri. Pengendalian hawa nafsu memang tidak mudah. Sebab, realita di dunia ini sudah dipenuhi oleh hawa nafsu belaka. Tak percaya? Coba renungkan. Apa saja di dunia ini yang tidak menyulut hawa nafsu manusia? Tidak ada. Untuk melawan pun, perlu usaha keras. Pengendalian diri, kata yang menurut saya (lebih) tepat. Tentu saja dengan berusaha kembali pada jalan Ilahi. Merupakan satu-satunya cara untuk bisa menjadi manusia terpuji. Manusia berakhlak indah.
Setiap manusia terlahir di dunia dengan sebuah tujuan. Tak ada yang sia-sia. Karena hidup tidak diberikan sembarang oleh Yang Maha Pencipta. Semua sudah ada tujuannya. Tinggal manusia sendirilah yang mencari apa tujuan dirinya hidup? Nyatanya memang, hidup tidak bisa dipilih. Tetapi menjalani hidup bisa dipilih. Kalaupun kini jalan yang tengah kamu pilih salah. Berhentilah sejenak. Sadarilah bahwa ini salah. Terimalah dan hadapi.
Ibarat pertandingan balap lari. Dirimu dipaksa berlari kencang. Sampai di satu kondisi nafasmu habis. Terengah-engah. Sesak nafas. Tubuhmu pun lelah. Lalu kamu memutuskan menepi dari lapangan. Atau kondisi lainnya, nafasmu masih normal. Energimu masih menggebu. Tetapi tiba-tiba kamu tersungkur hebat. Kaki penuh luka. Malu diri pun menerpa. Dan kamu memutuskan menepi. Keluar dari pertandingan. Sejenak. Tentu saja sejenak. Sementara. Tak selamanya. Karena masih ada sisa pertandingan yang harus dilanjutkan.
Istirahat sejenak boleh. Mengumpulkan energi lagi boleh. Membalut luka dahulu adalah kewajiban. Bernafas secara sadar adalah upaya. Namun jangan terlalu lama. Karena waktu pertandingan pun tak lama. Ada waktu yang ditetapkan untuk kita berlari. Dan waktu berputar dengan sangat cepat bukan? Maka, bangunlah. Berdiri lagi. Berjalan kembali. Dan berlarilah sebagaimana semestinya.
On the right track. God is always waiting you to come back . . .
*picture was taken from here
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
Tulisan ini mencerahkan saya :')
Post a Comment