Sunday, May 15, 2011

Benar-Benar Sahabat



Saat tidak lupa akan jadwal tayangnya. Saya suka menonton sebuah acara talkshow di Metro TV. Ya, Just Alvin. Dan episode malam ini memang episode yang menurut saya ditunggu banyak orang.

Adalah Cut Tari yang menjadi bintang tamu Just Alvin kali ini. Perempuan cantik berdarah Aceh itu memang selalu tampil menawan di setiap kesempatan. Wajahnya enak sekali dipandang. Proporsi wajahnya itu menurut saya sempurna. Antara rahang, dagu, hidung dan mata. Cantik. Terlepas dari "kisah" yang Tari torehkan beberapa waktu lalu. Saya mendapat pelajaran bagus tentang sebuah arti persahabatan.

Sekali lagi. Saya tidak ingin mengomentari "kisah" Tari. Tidak berminat lebih tepatnya. Saya malah lebih tertarik dengan apa yang saya lihat dari tayangan Just Alvin tadi. Diceritakan bahwa saat Tari dalam kondisi penuh dengan cobaan hidup. Sahabat-sahabat terdekatnya tidak serta merta "turun tangan". Bukan berarti tidak perhatian. Bukan berarti tidak sayang. Bukan berarti melarikan diri dan tidak memberi bantuan. Bukan. Malahan dengan tidak serta merta "turun tangan" melalui beribu pertanyaan ini itu, lalu menempatkan diri dalam kondisi diam, dan menunggu agar sang sahabat sendirilah yang akan datang untuk berbagi. Adalah suatu sikap dewasa yang patut dipelajari.

Beruntung, Tari memiliki sahabat-sahabat seperti Uli Herdinansyah, Indra Herlambang, dan Ersa Mayori. Mereka tahu bagaimana caranya menempatkan diri ketika sahabatnya benar-benar sedang terpuruk. Mereka tahu bagaimana caranya menunjukkan apa itu arti kasih dan sayang dengan label sahabat. Mereka tahu cara untuk menghormati privacy sahabatnya. Mereka tahu bagaimana harus ikut campur. Dan mereka juga tahu, bahwa sahabatnya juga manusia biasa. Bisa salah dan khilaf. Namun mereka tidak menghakimi sekalipun. Pun mengatur jalan hidup sahabatnya. Mereka membiarkan Tari untuk menenangkan diri, dan menyelesaikan menurut cara dia sendiri. Jujur, saya terharu melihat momen kebersamaan mereka tadi. Indah sekali :)

Menonton momen indah di Just Alvin tadi. Saya jadi berpikir. Itulah arti sahabat yang sebenar-benarnya. Apa adanya. Menerima kondisi orang yang ia sebut sahabat untuk dirangkul. Apapun kesalahan dan khilaf yang diperbuat. Akan tetap ada uluran tangan atau pelukan hangat untuk menenangkan. Atau hanya sekedar mendengarkan. Tanpa mengatur, menasehati, apalagi menghakimi. Karena memang begitulah tugas seorang sahabat. Bukan melulu mengarahkan ini dan itu, baik dan benar. Bukan melulu mengatur kehidupan si sahabat menurut versinya. Bukan melulu memberikan waktu luang untuk terus bersama. Bukan melulu memberi petuah kehidupan. Bukan melulu tertawa dalam suka, dan menangis dalam duka. Bukan, bukan hanya itu semata. Tapi lebih kepada, bagaimana ia menempatkan diri sebagai seseorang yang layak disebut sahabat. Benar-benar sahabat.

Pertanyaan dari saya, "Sudahkah kamu menjadi sahabat untuk orang yang kamu panggil sahabat? Sudahkah layak menyandang kata sahabat? Sudah? Kalau sudah selamat. Kamu hebat. Tetapi kalau belum. Teruslah berusaha. Berusaha untuk bisa menjadi sahabat untuk orang lain."

Cheers! :)


*picture taken from here

1 comments:

restoran jepang said...

kalau baca artikel'a bikin inget temen sekolah dulu yang buat geng gtu deh,tapi kompak abis dalam segala hal