Monday, April 11, 2011

"Jatuh" di Dunia Anak

Pernah mendengar ayat bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan?

Di tengah kondisi sabar menanti kabar dari "perusahaan impian" saya. Saya sibuk interview kesana kemari. Memang benar. Pekerjaan itu juga jodoh. Rezeki itu tidak akan pernah tertukar. Dan mau usaha semaksimal apapun, atau mau ditawari apapun. Kalau memang garis ketetepanNya masih belum berjodoh. Mau apa lagi? Walaupun saya sempat mendengar komentar dari beberapa orang terdekat yang mengatakan : "Jangan idealis lah.. Realistis," "Jangan milih-milih gitu. Apa saja dicoba dulu." Saya masih menjadi Adhini yang sama seperti 2,5 tahun yang lalu. Keras kepala. Keukeh. Idealis. Kalau sudah punya keyakinan dan kemauan, susah untuk dirubah. Apalagi dihancurkan lalu membangun keyakinan dan kemauan lainnya. Ya, that's me!

Sampai akhirnya jalan takdir membawa saya pada kondisi yang diluar rencana hidup. Seorang kawan lama semasa SMP yang juga aktif di blogger mengirimi saya email. Manda menanyakan apa kegiatan saya, dan memberi info bahwa ada lowongan di tempat ia bekerja. Tidak pernah terlintas bahwa saya akan mendapatkan pekerjaan ini. Walaupun salah satu impian saya bisa bekerja di majalah. Tapi bukan majalah anak-anak. Bukan. Bukan karena saya tidak suka. Salah. Justru karena saya dari dulu suka dengan dunia anak. Saya jatuh cinta dengan anak-anak. Makanya saya kaget. Tidak menyangka kesempatan seperti ini hadir di depan mata.

Bagi saya dunia anak adalah dunia kebebasan. Dimana anak adalah satu-satunya manusia yang (masih) dapat jujur dengan dirinya sendiri. Jujur. Satu kata yang sulit ditemukan pada manusia-manusia dewasa :)

Well, tugas saya masih sama. Menulis kembali. Menjadi seorang jurnalis. Bedanya tidak sekaligus reporter. Tugas saya lebih banyak di dalam kandang daripada keluar kandang. Lebih mirip script writer sepertinya. Menulis dan menulis. Senangnya! Karena memang menulis sudah mendarah daging dalam diri ini. Bak aktivitas yang bila tidak dikerjakan terasa ada yang kurang. Hidup rasanya hambar dan tidak ada passion.

Tantangan di majalah anak yang harus saya terus pelajari adalah gaya penulisan. Jujur sejujur-jujurnya ini gak semudah yang dibayangkan, namun gak sesulit yang dipikirkan. Karena biasanya saya berkutat dengan artikel lifestyle (seksualitas, metroseksual, kesehatan, fashion & beauty, keluarga, food) bahkan dulu sempat juga di koran menulis artikel-artikel isu dan kebudayaan. Sekarang saya dituntut untuk menulis dengan target sasaran anak-anak. Tentu saja ini merupakan suatu warning bahwa saya harus merubah gaya penulisan sesederhana mungkin. Amat sangat sederhana. Bak tengah berbicara langsung dengan anak-anak TK. Hihihihi..

Intinya, saya bahagia mendapat pekerjaan ini. Bisa menjadi media perantara pendidikan antara guru dan anak-anak. Bisa belajar bahasa anak-anak (lagi). Bisa berimajinasi bebas (lagi). Bisa mengedukasi anak-anak lewat tulisan. Ya Rabb, nikmatmu ini sungguh indah! Alhamdulillah :)

2 comments:

Manda said...

hehehe itu jodoh banget loh din, entah kenapa yang kepikiran nama lo. Semoga mendapat ilmu yang bermanfaat ya, mari kita bermain bersama :D

hehehehehe....

Nini Hartini said...

Wow...Tahniah din. Saya Tini dari Malaysia. Saya merupakan kindergarten teacher. InshaAllah seba sedikit kelakuan mereka bisa saya baca. Moga saya bisa membantu kamu dalam memahami urusan anak kecil :)

Success terus ya :)