Friday, April 15, 2011

The Company Men



Apa kamu penggemar film-film Hollywood? Film dengan genre apa yang kamu suka tonton? Saya pribadi suka film-film dengan genre drama romantis ataupun komedi. Tapi ada kalanya saya suka dengan jalan cerita drama yang menyuguhkan konflik. Seperti film ini yang baru saya tonton 2 hari yang lalu.

The Company Men bercerita tentang kehidupan tiga orang pria yang mencoba bertahan hidup setelah mereka dipecat. Ketiga pria ini memiliki pengalaman kerja bertahun-tahun di sebuah perusahaan besar milik Amerika bernama GTX. Akan tetapi, saat berhadapan dengan resesi tahun 2010. Perusahaan tersebut terpaksa harus "membuang" beberapa karyawan guna menstabilkan perusahaan. Neraca perusahaan yang mengalami penurunan disinyalir sebagai salah satu faktor utama mengapa GTX rela "membuang" banyak karyawan.

Dari ribuan karyawan yang di-PHK, adalah Bobby Walker (Ben Affleck)-salah satu dari tiga pria yang menjadi aset perusahaan GTX-yang harus menerima pukulan hebat pasca PHK. Ia harus menerima konsekuensi kehidupan nyata sebagai seorang penggangguran. Ia tak memiliki pekerjaan apapun, padahal ada istri dan kedua anak yang harus diberi nafkah. Bobby bukan hanya kaget melihat perubahan gaya hidup dirinya serta sang keluarga. Tapi juga ego-nya sebagai seorang kepala keluarga tersentil. Ia merasa tak berguna, bahkan sampai ada di titik stres. Beruntung Bobby memiliki istri dan keluarga yang selalu memberikan dia support. Bahkan kakak ipar Bobby, Jack Dollan (Kevin Costner) menawarkan pekerjaan kepada Bobby. Disinilah letak konflik dimulai.

Bobby yang memiliki latar belakang pendidikan di jurusan financial, dengan gelar MBA. Serta merta tak terima dengan kenyataan bahwa dia harus bekerja di luar bidangnya. Apalagi pekerjaan itu "pekerjaan kasar". Jack dengan profesinya sebagai pekerja kontraktor tengah membutuhkan tambahan pekerja untuk menyelesaikan order pembangunan rumah. Awalnya, Bobby menolak mentah-mentah tawaran pekerjaan tersebut. Ia merasa dirinya masih layak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Bahkan jauh lebih baik dari saat ia bekerja menjadi manager di GTX dengan gaji 110.000 dollar per tahun. Dimana kalau dirupiahkan kurang lebih sekitar 97 juta per bulan. Bobby masih bertahan dengan pendirian serta egonya. Ia masih berusaha melamar pekerjaan di sana sini. Dengan background pendidikan serta pengalaman kerja mencenangkan. Ia yakin bisa bekerja di perusahaan yang lebih baik dari GTX. Dan tentu saja dengan gaji setara atau bahkan lebih tinggi.

Berbulan-bulan usaha Bobby belum membuahkan hasil. 3 bulan, 5 bulan, belum ada perusahaan yang benar-benar menerimanya. Walaupun beberapa perusahaan besar memanggilnya untuk interview. Namun, pada kenyataannya Bobby belum berjodoh dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Sampailah Bobby pada suatu titik. Dimana semua aset kekayaannya harus dijual satu persatu untuk menutupi tagihan kartu kredit yang semakin membengkak. Mobil, bahkan sampai rumah. Sehingga Bobby harus memutuskan untuk menumpang hidup sementara waktu di rumah orang tuanya. Padahal sebelumnya dengan gengsi tinggi Bobby sesumbar mengatakan bahwa dirinya lebih memilih mati daripada harus tinggal di rumah orang tuanya lagi.

Dalam kondisi penuh tekanan sosial, serta kewajibannya untuk memberikan nafkah pada keluarga. Akhirnya Bobby memilih menerima tawaran pekerjaan dari Jack. Ia menjadi buruh. Perlahan tapi pasti Bobby menerima kenyataan dengan sikap optimis. Bahwa akan ada pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya suatu hari nanti. Gayung pun bersambut.

Suatu hari di pemakaman Phil Woodward-salah satu rekan Bobby yang juga korban PHK perusahaan GTX-Bobby bertemu dengan mantan bosnya, Gene McClary. Gene McClary yang memiliki loyalitas pada perusahaan GTX pun harus menelan pil pahit karena ikut di "buang" oleh perusahaan yang telah ia besarkan selama 30 tahun terakhir. Diantara Bobby, Phil, dan Gene yang menjadi tokoh utama dalam film ini. Hanya Gene yang berhasil berpikir jernih meski dalam kondisi tertekan menyandang gelar seorang penggangguran. Sedangkan Bobby, emosinya masih amat sangat labil. Bila tidak karena dukungan dari istrinya serta keluarga. Mungkin ia akan berakhir depresi dan bunuh diri seperti Phil.

Melalui Gene-lah, Bobby diajak untuk membangun perusahaan baru. Perusahaan kecil tersebut diisi oleh para mantan karyawan GTX yang juga menjadi korban PHK. Berkat latar belakang pengalamannya di perusahaan GTX. Gene optimis dan percaya diri bisa membangun perusahaan kecil yang nantinya bisa menjadi besar sekelas GTX. Apakah Bobby dan Gene berhasil memulai kembali dari awal? Apakah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan yang selama ini mereka idamkan? Apakah dengan gelar MBA dan pengalaman puluhan tahun yang dimiliki Bobby dan Gene bisa membawa perusahaan kecil mereka menyaingi GTX? Tontonlah film yang sangat bagus ini.

Saya benar-benar merekomendasikan film ini. Konflik yang disuguhkan sangat nyata. Tidak dibuat-buat. Dan merupakan realitas sosial di kehidupan modern. Apa yang bisa dipetik dari film ini? Banyak! Banyak hal positif yang bisa saya dapatkan saat menonton film ini.

Pertama, saya merasa lebih menyukuri apa yang saya miliki. Pekerjaan saya. Passion saya. Gelar pendidikan saya. Semua yang melekat di diri saya. Bahwa ada kalanya saya menyesali banyak hal yang telah terjadi di kehidupan masa lalu. Itu tak akan mengubah apapun. Karena hidup terus berjalan menuju ke depan. Bukan kebelakang, ataupun diam di tempat. Bobby mengajarkan saya untuk menjadi manusia berlogika. "Pakailah logikamu. Buang gengsimu. Rendahkan egomu. Kerjakan apa yang ada di depan mata sebaik mungkin. Maka kamu akan menjalani hidup dengan lapang dada." Kedua, Bobby juga mengajarkan saya untuk tidak menjadi "pengemis". Dalam artian meminta ataupun mengiba-iba pekerjaan pada orang lain. Ia tidak menyerah untuk berusaha. Dari satu kantor ke kantor lainnya ia dipanggil interview. Berbulan-bulan. Berbekal gelar MBA dan pengalaman berpuluh-puluh tahun. Bobby masih terus menerima penolakan dan kegagalan. Sampai akhirnya ia harus berdamai dengan realita dan melakoni pekerjaan sebagai buruh. Meskipun dalam hati kecilnya ia masih bermimpi untuk mengaplikasikan ilmunya lagi. Mendapatkan pekerjaan yang sepantasnya. Dan itu menjadi nyata! Pada akhirnya ia meninggalkan pekerjaan buruh dan kembali mengaplikasikan ilmunya di bidang marketing.

Syukur dan sabar. Dua kunci kehidupan yang bisa saya pelajari dari film ini. Dimana rasa syukur dan sabar berjalan saling beriringan. Saling memenuhi. Saling menguatkan. Saling menerangkan.

Ah, life is beautiful! :)

2 comments:

Fenty Fahminnansih said...

nice, nonton ah :)

inginbercerita said...

masi rajin blogging, neng?
Salut deh!