Sunday, February 13, 2011

Usia Perak



Sepuluh hari yang lalu, ditambah dua puluh lima tahun yang lalu. Saya dilahirkan di dunia ini. Perempuan berdarah Jawa dengan nama tak seperti orang Jawa. Perempuan yang sedari bayi tak pernah memiliki tubuh langsing. Dari lahir sudah berbobot besar, ditambah balita, lalu beranjak remaja dan kini dewasa. Saya memang lahir dengan struktur tubuh tinggi dan juga gemuk. Wew, tak pernah saya bertubuh langsing. Dan kini tengah berjuang lagi menuju bobot tubuh ideal ;) *ko malah curcol berat badan?*

Meskipun belum pernah merasakan tubuh langsing. Saya bersyukur terlahir dengan anggota tubuh lengkap. Tak kekurangan satupun. Rasa syukur yang kerapkali terlupakan karena terlalu banyak terpapar stigma "kecantikan" versi media massa. Saya juga bersyukur terlahir dari keluarga berdarah Jawa, yang mana pola pendidikan dan akhlak sudah mulai dibentuk sedari cilik. Untuk urusan agama. Saya teramat bersyukur, karena dari mulai menginjak sekolah di bangku TK nol kecil. Keluarga saya sudah mengajarkan ayat-ayat suci Al Qur'an, dan tata cara sholat lima waktu. Semua kenangan indah itu terbawa sampai detik ini. Dimana sholat lima waktu kini menjadi barang yang langka. Saya bersyukur masih bisa berpegang terus dengan tiang agama ini.

Saya begitu bersyukur memiliki kedua orang tua dan kedua adik laki-laki yang masih lengkap. Dimana kami masih bisa berkumpul bersama. Menikmati setiap menit kisah untuk diukir. Tuhan, berikanlah mereka kesehatan dan perlindunganMu dimanapun mereka berada. Terima kasih karena telah menghadirkan mereka untuk menjadi rumah serta istanaku :)

Saya bangga memiliki papa dan mama dengan karakter keras, tegas dan disiplin. Mereka mendidik kami bertiga dengan cara tak biasa. Sedari kecil, tak ada foya-foya. Kami hidup dalam kondisi berkecukupan. Tapi tak lantas membuat kami tiga anaknya bisa sesumbar menghabiskan uang. Bila ingin membeli sesuatu, harus pandai-pandai memutar otak lebih dahulu. Strategi dipraktekan untuk dapat membeli barang impian. Tak melulu apa yang kami minta akan diberikan oleh papa dan mama. Bukan karena mereka tak memiliki uang. Tapi karena mereka ingin kami belajar untuk mengendalikan hawa nafsu. Nafsu ingin beli ini, beli itu, padahal barang yang diinginkan belum pasti dibutuhkan. Papa dan mama sudah tahu benar watak anak-anaknya. Sehingga kalaupun benar-benar memang dibutuhkan. Barulah mereka mengamini dan membelikan barang yang kami inginkan.

Bagi kedua orang tua saya. Plesiran, liburan ataupun jalan-jalan tak lebih penting dari berkunjung kerumah saudara. Papa dan mama mengajarkan saya untuk menempatkan silaturahim antar saudara ataupun kerabat, dibandingkan mendahulukan waktu tamasya. Alhamdulillah, hati ini pun mulai terbentuk untuk tak punya banyak mau. Pun kalau tengah kumat ingin ini ingin itu. Saya akan menelaah lagi. Apakah memang ini benar-benar dibutuhkan untuk jiwa raga saya, atau hanya keinginan semata? Papa dan mama lebih gemar mengajak saya dan kedua adik untuk pergi ke rumah nenek, bude, pakde, om, tante, sepupu, ataupun kerabat lainnya dibandingkan tamasya. Kalaupun berlibur ke luar kota. Tak lain dan tak bukan pasti mengunjungi sanak keluarga yang ada di daerah tersebut. Jarang sekali benar-benar berlibur hanya untuk menikmati waktu luang yang ada. Dan lagi-lagi, saya berterima kasih atas didikan mereka untuk tetap mengutamakan kunjungan silaturahim diatas kesenangan lainnya.

Rasa syukur saya menginjak usia dua puluh lima tahun ini pun belum habis diutarakan. Saya bersyukur diizinkan bisa merasakan apa itu jatuh cinta-mencintai-patah hati oleh Sang Pemilik Cinta. Saya baru merasakan cinta kepada dua orang pria. Cinta pertama saya di kala itu sewaktu kelas 3 SMA. Sedangkan cinta kedua saya bersemi ketika saya bertransformasi dari wujud seorang gadis remaja menjadi seorang perempuan dewasa.

Sungguh dua kisah cinta yang tak sama. Dua kisah cinta yang menghadirkan seribu rasa tak terwakilkan oleh kata-kata pujangga. Dua cinta dari dua pria tersebut telah mengajarkan saya banyak hal. Karena itulah juga, bila nanti Tuhan mengizinkan hati saya untuk jatuh lagi. Saya ingin cinta ketiga saya dialamatkan pada pria yang menjadi pendamping hidup kelak. Pria yang saya panggil dengan sebutan Imam. Pria yang menjadi pemimpin saya dalam rumah tangga. Dan telah saya titipkan hati ini pada Sang Pemilik Jiwa. Berharap Dia akan memberikannya langsung pada pria yang paling tepat di waktu yang sempurna. Dan pilihanNya pasti yang terbaik diantara yang baik bukan? Tak ada satupun manusia yang mampu mengelaknya :)

Di usia perak ini. Saya juga bersyukur untuk beragam kisah yang telah dihadirkan Sang Pemilik Jiwa kepada saya. Kisah bahagia maupun sedih. Semuanya mengandung pembelajaran untuk menjadi seorang mukmin yang baik. Baik dimata Tuhan maupun dimata manusia.


Tuhanku..

Terima kasih untuk semua nikmat yang seringkali saya lupakan. Terima kasih kesempatan yang masih hadir untuk saya habiskan di dunia ini. Jadikanlah sisa usiaku ini penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Beri saya kesempatan untuk mewujudkan sekotak mimpi yang belum menjadi nyata.

Wahai, Engkau Sang Pemilik Waktu . . .

Sebelum waktuku habis di dunia. Izinkan saya bisa merawat papa dan mama. Berbakti dan membahagiakan mereka. Bisa memberikan mereka "sesuatu" dari hasil jerih payah usaha saya yang entah itu berupa apa. Izinkan saya untuk bertemu dengan jodoh saya. Menikah, punya anak, merasakan menjadi seorang istri dan ibu. Berbakti dan merawat mereka setulus hati. Izinkan saya bisa bersedekah lebih banyak lagi. Izinkan saya untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan, agar bermanfaat untuk dunia maupun akhirat saya kelak. Izinkan saya agar mampu pergi ke Saudi Arabia, New Zealand dan Perancis.

Tuhan, jangan pernah lepaskan pelukan kasihMu ini. Jangan biarkan saya tersesat dengan fana-nya dunia. Tetap tuntun langkah saya di dunia. Karena hanya Engkau-lah semua urusan dan akhir kehidupan akan kembali..

Amin ya rabbal alamin. 

 

2 comments:

The Tiger said...

Iya Adhin... bepergian dalam rangka menjalin silaturahmi jauh lebih bermakna daripada bepergian sekedar bertamasya.

Semoga do'a dan harapan Adhin dikabulkan dan dimudahkan oleh Sang Pemilik Jiwa. Amin YRA.

Erik said...

Detik demi detik, tak terasa berlalu menjadi hitungan tahun. Dan waktu yang berlalu tak akan pernah kembali kepada kita, hanya meninggalkan berbagai kenangan.

Met Milad ya Dhini... semoga dengan bertambahnya usia, Dhini menjadi semakin dewasa dan bijak. Semoga makin dekat dengan Sang Pemilik Semesta Alam, serta mendapat kemudahann dan dikabulkan do'a dan harapan Dhini. Amin Ya Robbal 'Alamin.