Friday, May 24, 2013

"Sudah Isi?"


Pertanyaan apa yang akan didengar setelah pernikahan usai digelar?

"Sudah isi?"

"Gimana, sudah telat datang bulan belum?"

"Sudah ada tanda-tanda kehamilan belum?"

Oh, life.. 
Oh, Indonesian people..
Apa lagi yang bisa ditanyakan kalau bukan pertanyaan-pertanyaan diatas. Saya pribadi, karena masih berstatus pengantin baru dengan usia pernikahan 2 bulan. Tidak terlalu risih mendengar pertanyaan tersebut. Tapi malas juga kalau tiap kali ketemu orang dengarnya pertanyaan yang itu-itu saja?

Kenapa gak berkembang sedikit sih pertanyaannya? Kan bisa coba tanyakan pertanyaan seperti ini.

"Sekarang tinggal dimana?"

 "Mau mencari rumah di daerah mana?"

"Apa rencana ke depan setelah menikah?"

"Ada rencana bangun usaha sendiri setelah menikah?"

"Ingin tetap jadi pegawai kantoran atau ibu rumah tangga?"

"Rencana ingin punya anak berapa dengan suami?"

"Negara mana yang ingin dikunjungi bersama keluarga?"

Dan masih banyak lagi daftar pertanyaan yang bisa ditujukan bagi pasangan suami istri yang baru saja menikah. Dibandingkan harus bertanya kehamilan terus menerus. Kalau ditanya saya ingin cepat hamil atau menunda? Jawaban saya, ingin cepat hamil. Dari sebelum ketemu si suami, dari sebelum nikah pun. Saya ingin buru-buru hamil. Entah kenapa.. Yang saya rasakan. Naluri keibuan ini sangat menggebu-gebu. Tak sabar rasanya rahim ini terisi oleh sang buah hati.

Tapi sebagai manusia. Saya dan suami hanya bisa memaksimalkan ikhtiar, dan menyempurnakan doa. Hasilnya ya di tangan Yang Maha Pemberi. InsyaAllah rejeki itu akan segera datang. Bantu doa yaa kawan :')


*pic was taken from here

Friday, May 10, 2013

Pilah Pilih Vendor Pernikahan

Hallo! :)

Kali ini saya mau sharing seputar pemilihan vendor pernikahan. Semoga bisa menjadi referensi bagi Anda para calon pengantin. Check this out! ;)

Mari Berhitung!
Merencanakan sebuah pernikahan. Pastilah butuh dana yang cukup. Cukup untuk membayar biaya ini itu. Cukup untuk mewujudkan pernikahan impian. Ingin resepsi pernikahan mewah? Tentu saja butuh biaya banyak.

Saran saya, jika Anda ingin merencanakan menikah sekitar 6 bulan ke depan. Masih ada waktu selama 6 bulan untuk mengatur arus keuangan. Sebisa mungkin dibicarakan secara gamblang dengan calon pasangan hidup. Mampu mengeluarkan biaya berapa untuk pernikahan ini?

Saya pribadi dan suami. Ketika memutuskan akan menikah. Sudah mulai terbuka satu sama lain mengenai keuangan masing-masing. Obrolan seputar biaya pun seringkali kami bahas.
  • Gaji masing-masing tiap bulan berapa? 
  • Mampu mengeluarkan biaya berapa?
  • Sanggup memberi biaya pernikahan ke pihak keluarga perempuan berapa?
  • Tanggung jawab saya membayar apa? Sedangkan kamu apa?   
Ketika hal paling sensitif ini sudah mampu dibahas bersama. Kemungkinan untuk salah paham kecil. Selain itu, jika masing-masing diri sudah terbuka mengungkapkan kesanggupannya. Barulah bicarakan mengenai dana tersebut ke orang tua.

Yang perlu diingat. Pernikahan tidak harus dirayakan secara berlebihan. Yang penting sah secara agama dan negara pada saat akad nikah. Pun ingin menggelar resepsi di rumah atau di gedung. Harus disesuaikan dengan dana yang ada. Jangan pernah memaksa. Ataupun berhutang demi menggelar sebuah resepsi pernikahan. Gengsi yang didapatkan tidak sebanding dengan turunnya harga diri karena berhutang.

Tema Pernikahan
Seberapa penting menentukan tema pernikahan? Sangat penting! Jika belum bisa menentukan tema pernikahan. Lantas, bagaimana bisa memilih catering dan dekor? Lalu mendesain undangan. Memilih tata rias pengantin mana yang akan digunakan jasanya?

Tema pernikahan biasanya didapat dari hasil diskusi oleh orang tua dan calon pasangan. Bisa menggunakan tema tradisional, nasional, atau bahkan internasional. Pada saat saya menikah. Saya dan suami kala itu memilih tema nasional bercampur internasional di waktu akad nikah. Ada sentuhan nasional, namun gaya internasional-nya pun tidak luput. Orang tua saya saat itu setuju dengan pilihan kami.

Sedangkan untuk resepsi di gedung. Orang tua lebih dominan memutuskan tema. Mereka memilih tema tradisional, yaitu adat Jawa - Yogyakarta. Saya dan suami sepakat bila keinginan mereka seperti itu. Mengingat pernikahan ini bukan hanya saja hajatan kami berdua. Tapi juga hajatan orang tua dan keluarga besar lainnya.

Jadi, saran saya. Sangat penting untuk menentukan tema pernikahan bersama calon pasangan dan orang tua. Sehingga tidak ada yang merasa kecil hati jika tidak sejalan dengan pernikahan impian di benak masing-masing. Namanya juga acara bersama, sebuah perayaan bersama. Tidak boleh egois kan? :)

Catering
Makanan merupakan poin utama dalam acara pernikahan. Biasanya sebuah acara pernikahan terbilang sukses jika para tamu memuji hidangan makanannya. Makanan lezat memang tidak bisa berbohong. Lidah akan sulit untuk tidak jujur membedakan mana makanan lezat, mana makanan kurang lezat.

Nah, saran saya. Untuk pemilihan catering berikan pilihan kepada orang tua. Karena ini juga acara mereka. Berikan hak penuh pada orang tua untuk memilih. Kecuali, Anda bisa membayar catering 100 persen tanpa campur tangan orang tua. Baru Anda bisa memilih sendiri. Hakhak!

Kalau saya dan suami saat itu sepakat. Berhubung acara akad nikah kami dirumah. Jadi, untuk akad nikah kami hanya mengundang keluarga dan sahabat terdekat, serta beberapa orang tetangga dekat rumah. Biaya catering untuk acara akad nikah pun menjadi tanggung jawab saya. Sedangkan biaya dari suami, saya berikan kepada orang tua untuk membantu biaya catering resepsi di gedung.


Catering akad nikah, saya menggunakan jasa Mardika Catering. Sedangkan resepsi, orang tua saya memilih menggunakan jasa Ibu Djoko Catering .Alhamdulillah kedua catering tersebut sangat memuaskan. Makanan lezat, rasa sewaktu testfood sesuai dengan makanan yang dihidangkan pada waktu acara. Pelayanan para pegawai catering pun cepat dan cekatan. Piring kotor cepat dibereskan. Para tamu pun banyak yang bertanya catering apa yang kami pakai saat itu. Mereka memuji hampir seluruh makanan lezat. Kami sekeluarga puas karena tidak salah pilih :)

Undangan
Undangan biasanya berkaitan erat dengan tema pernikahan. Tema yang sudah dipilih diawal bisa jadi patokan membuat desain undangan. Karena akad nikah saya ada sentuhan klasik dan victorian style. Dengan dominasi warna broken white, kuning gading, silver dan emas. Maka ada warna-warna tersebut di dalam undangan saya.

Sedangkan karena resepsi bertema Jawa - Yogyakarta. Dimana saya mengenakan busana khas keraton Yogya. Maka, warna emas dan cokelat akan mendominasi. Sehingga dua warna tersebut menjadi pilihan untuk menjadi cover sampul undangan, dan warna font di dalamnya.

Desain undangan sendiri memakai jasa sahabat, sekaligus blogger bernama Manda. Kenapa saya memilih desain dari Manda? Karena beberapa kali saya telah order gambar dan desain dengan dia. Dari segi gambar dan juga desain. Saya cocok dengan Manda. Saya juga merasa Manda sudah kenal betul karakter saya seperti apa, tema pernikahan serta desain yang saya inginkan.

Setelah desain sudah dibuatkan Manda. Maka berganti tugas. Kala itu, Papa saya yang memilih jasa percetakan undangan. Beliau memilih jasa Toho Cards. Toho Cards sendiri menawarkan desain yang telah jadi. Mereka sangat kooperatif. Responnya cepat. Undangan saya pun telah jadi kurang dari waktu sebulan. Kerjanya cepat. Perpaduan dari Manda dan Toho Cards melahirkan undangan pernikahan yang boleh saya katakan, "Gue banget!". Ya, saya puas dengan undangannya. Meski ada kekurangan di ukuran font yang agak lebih kecil. Tapi saya suka! :)

Tata Rias Pengantin
Nah, ini dia vendor favorit saya! Kenapa? Tidak usah bertanya kenapa. Karena hari pernikahan adalah hari dimana kita berubah menjadi "Ratu" di hadapan orang banyak. Maka jangan sampai penampilan di hari itu membuat kita tidak berhak dipanggil "Ratu".

Dari awal, saya, suami dan orang tua membahas tema pernikahan kami. Saya sudah mengatakan pilihan tata rias pengantin saya. Saya ingin menggunakan jasa dari Dewi Pengantin sewaktu akad nikah. Suami dan orang itu saat itu hanya bisa setuju. Karena saya sudah bertekad, untuk acara akad nikah. Tata rias pengantin, gaun pengantin serta model hijab saya menjadi tanggung jawab saya. Hal ini berkaitan dengan tema di awal (yang tadi saya bahas). Ketika tema sudah ditentukan, pembagian tugas telah dibagi rata. Maka poin-poin di dalamnya sudah menjadi tanggung jawab dari masing-masing orang.

Well, tarik napas dulu. Banyak juga yaaa ini ngetiknya. Hihihi... *tarik napas buang napas*.

Untuk tata rias pengantin dari Dewi Pengantin. Gak usah dibahas lagi. Saya puas sepuas-puasnya! :))) Mbak Dewi (nama si perias) berhasil membuat wajah saya tampak berbeda. Lebih mancung dan lebih tirus. Hasil makeup mata pun bagus dan rapi sekali. Cantik! Saya suka. Meski harus tersiksa dengan menggunakan bulu mata palsu sampai 2 buah. Tapi tak apa. Hahay!

Lanjut ke gaun pengantin. Gaun pengantin sendiri saya desain di butik langganan Mama saya, BuNina. Karena si pemilik butik adalah teman akrab si Mama. Jadilah gaun pengantin tersebut diberikan harga khusus. Alhamdulillah jasa jahitnya gratis.. Katanya kado pernikahan untuk kami :"> Kalau untuk bahan gaun itu sendiri. Saya beli di mayestik di toko bahan Fancy. Cerita soal gaun akad nikah pernah saya tulis disini.

Me with Hijab Stylish
Makeup sudah, gaun sudah. Tinggal hijab! Model hijab yang saya kenakan pada waktu akad nikah. Itu juga... Gratisan! Hahaha.. #tersipu #malu. Kenapa bisa gratisan lagi? Namanya juga rejeki. Siapa yang gak mau dikasih rejeki coba? :D Jadi ceritanya, sepupu saja itu salah satu pendiri sekaligus publisher dari Majalah Annisa. Namanya, mbak Avi. Si mbak Avi ini kasih kado pernikahan berupa jasa hijab pengantin. Si hijab stylish majalah Annisa, mbak Hikmah datang pagi-pagi kerumah untuk menyulap model hijab saya. Viola!  Saya berubah lebih anggun. Ihhh.. Senangnya. Thanks a lot mbak Avi dan mbak Hikmah! :-*

Itu tadi untuk tata rias pengantin saat akad nikah. Sekarang, saya akan bahas tata rias pengantin sewaktu resepsi. Tata rias pengantin resepsi saya memakai jasa Sanggar Sekar Arum. Sanggar Sekar Arum ini benar-benar khas adat Jawa. Si pemiliknya pun Ibu Sumiaji berdarah Jawa. Ibu Sumi yang dandani paes dan pakaian saya. Sedangkan untuk makeup saya dipegang oleh mbak Ita, anak dari Ibu Sumi. Hasilnya gimana? Manglingi! Saya berubah bak puteri keraton Yogya.

Alhamdulillah tata rias pengantin dari Sekar Arum memuaskan. Baik pakaian pengantin, orang tua pengantin, para among tamu, penerima buku tamu, pagar bagus dan pagar ayu. Semua terlihat cantik dan tampan. Perpaduan warna merah, emas, hijau dan kuning memberi kesan Jawa sekali.

Dekorasi

Dekorasi akad nikah, alhamdulillah sekali lagi-lagi rejeki. Kawan-kawan Mama dari grup pengajiannya banyak yang patungan ini itu. Ada yang bagian desain dekorasi pelaminan, ada yang meminjamkan sound system, ada yang desain kamar pengantin, ada yang bagian dekor vas bunga, meja, kursi. Sedangkan, untuk tenda sendiri. Mama mendapat harga khusus dari kawannya yang punya usaha jasa penyewaan tenda pernikahan. Plus dipinjamkan kursi tamu juga! Kami sekeluarga benar-benar gak nyangka, kemudahan datang begitu banyak saat penyelenggaraan akad nikah.


Lanjut ke dekorasi resepsi. Dekorasi resepsi, Papa saya memilih jasa dari Sanggar Sekar Arum. Untuk tata rias pengantin, Sanggar Sekar Arum memuaskan. Tapi menurut kami sekeluarga, untuk dekorasi kurang. Kenapa? Karena ada beberapa poin yang tidak sesuai dengan presentasi dan technical meeting di awal kami membahas tema. Bunga-bunga kurang banyak dan kurang segar. Kurang terlihat 'WOW' seperti gambar saat presentasi pertama.


Intinya kami sedikit kecewa dengan dekorasi Sanggar Sekar Arum. Meski hal ini tidak tampak di mata para tamu, karena sudah terbantu dengan tata rias dan pakaian pengantin yang tampak mewah bak keluarga ningrat :)

Tidak Libatkan Keluarga Besar Jadi Panitia
Berbicara soal pernikahan. Saya, suami dan orang tua merupakan panitia inti sekaligus si empunya acara. Mengapa? Karena kami sama sekali tidak melibatkan keluarga besar. Baik keluarga dari pihak orang tua, maupun keluarga dari pihak suami. Kami merasa tidak ingin merepotkan keluarga besar. Walaupun masih terikat saudara dan dialiri darah yang sama. Tapi kami tetap memegang prinsip. Terutama orang tua saya yang berprinsip "Jangan pernah hutang budi sama orang lain. Bahkan itu saudara sekalipun." Itu adalah kalimat sakti mereka. Dan saya sangat bangga mendengar kalimat tersebut.

Tidak Ada Seragam, Bukan Berarti Pelit
Selain tidak melibatkan keluarga besar untuk menjadi panitia dalam acara pernikahan kami. Saya pun tidak memberikan seragam kepada keluarga besar, dan sahabat-sahabat terdekat. Mengapa? Karena saya tidak ingin memberatkan mereka. Kenapa memberatkan? Ya jelas. Karena tidak semua orang punya biaya (diluar dana hidup yang harus dikeluarkan sehari-hari).

Seumpama saya memberi keluarga besar ataupun sahabat terdekat seragam. Pastilah mereka harus mengeluarkan biaya untuk menjahit. Karena saya memberikan bahan mentah, yang mana harus mereka jahit sendiri. Untuk biaya jahit satu pakaian saja sekarang minimal Rp.150.000. Kalau mau lebih bagus bisa berkisar diantara Rp. 200.000 - Rp. 500.000,-.

Nah, coba bayangkan. Kasihan kan kalau ada diantara mereka yang saya berikan seragam. Pada saat itu dalam kondisi tidak memiliki biaya lebih. Lantas terpaksa menjahit untuk bisa memakai seragam yang saya berikan pada hari pernikahan saya? No no. Saya tidak mau memberatkan orang lain dengan pernikahan saya. Walau mungkin tidak semua merasa berat mengeluarkan biaya segitu.

Wedding Photography
Semua hal yang berkaitan dengan dokumentasi dibawah kendali Papa saya. Papa memilih Senada Wedding Photo & Video. Dan lagi-lagi.. Sepupu saya dan sahabat sma saya juga berprofesi sebagai fotografer. Jadilah mereka ikut memberikan kado pernikahan berupa jasa Wedding Photo di acara akad nikah dan resepsi kami.





 Nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan ya Tuhan? :')

Tuesday, May 7, 2013

Jelang Akad Nikah

Alhamdulillah..

Satu kata yang kami ucapkan setelah resepsi pernikahan usai. Rasanya bagaimana setelah semua acara berhasil dilalui? Lega. Lega sekali. Ibarat bom atom yang menunggu meledak pada waktu yang telah direncanakan oleh Yang Maha Kuasa. Saya, suami, dan keluarga merasa lega dan bahagia semua proses telah dijalani dengan lancar.

Mengingat pengalaman saya menjelang hari pernikahan 1,5 bulan yang lalu. Saya ingin berbagi kisah seputar pengalaman jelang pernikahan. Happy reading! ;)

Penetapan Tanggal Lamaran
25 Juni 2012
Pertama kali saya membawa suami ke rumah untuk dikenalkan dengan keluarga. Saat itu juga, saya dan suami (saat itu masih berstatus calon) mengutarakan niat kami untuk menikah. Memang tidak langsung dijawab oleh kedua orang tua saya dengan kata "Iya" atau "Tidak". Tapi mereka memberikan kami saran untuk menjalaninya dulu.

"Jalani dulu saja. Ojo kemrungsung kalau kata orang Jawa. Kalau dia yang terbaik untuk kamu. Pastilah kamu jadi dengan dia," ujar Papa.

Sedangkan Mama, kala itu lebih lugas memberikan penilaiannya saat pertama kali saya kenalkan dengan suami.
 
"So far, so good. Mirip sama itu mbak, artis itu. Raffi Ahmad. Iya mirip sama dia.." kata Mama sambil tersenyum.

Waktu itu saya hanya menuruti saran dari orang tua. Untuk tidak terburu-buru. Untuk tidak gegabah mengungkapkan keinginan kami menikah. Karena memang proses pengenalan kami terbilang singkat dan cepat.

Minggu pertama kami berkenalan sebatas klien kerja. Minggu kedua kami mulai berkomunikasi sebagai klien kerja, namun hubungan kami makin dekat. Sudah mulai saling menggali informasi satu sama lain, saling membuka diri bercerita ini itu. Dan minggu ketiga, hubungan kami sudah lebih dari sekedar klien kerja. Kami makin mantap menjalin hubungan dengan tujuan menikah. Memiliki visi misi sama. Memandang pernikahan dari sudut pandang yang sama. Punya tujuan hidup yang  insyaAllah sama. Dan sama-sama lelah untuk sekedar berpacaran tapi tak ada tujuan.

Di titik tersebut saya memang berniat untuk menikah. Tapi entah dengan siapa. Karena sedang dalam kondisi tidak menjalin hubungan serius dengan lelaki manapun. Namun, di setiap sujud dan doa. Saya selalu memohon agar di dekatkan dengan jodoh saya. Pria yang bisa jadi Imam untuk saya. Untuk jadi pembimbing saya. Terus menerus saya berdoa seperti itu. Pun dalam hati. Saya selalu yakin bahwa Tuhan selalu memberikan waktu terbaik versiNya untuk menjawab doa-doa hambaNya.

Sedangkan suami. Ia juga ingin memiliki keluarga. Ingin menikah, punya anak. Membangun keluarga sendiri. Dan lelah untuk sekedar berpacaran semata. Ia memang berniat mencari penamping hidup kala itu. Bertemulah niat kami di titik yang sama.. Sebuah pernikahan.

4 September 2012
"Mbak, Papa sama Mama tadi sudah ke Smesco. Sudah DP gedung. Untuk tanggal 23 Maret 2013," ungkap Papa sambil menarik bangku meja makan.

"HAH?! DP GEDUNG?" responku panik sambil berhenti mengunyah makanan.

"Iya, DP Gedung. Di bulan Maret yang sisa tinggal tanggal itu. 23 Maret 2013," lanjut Papa.

.....................................

Tak bisa berkata apapun. Saya sungguh tidak menyangka bahwa orang tua saya bertindak di luar ekspektasi.

Setelah saya membawa suami untuk dikenalkan pada keluarga kala itu. Selang dua hari kemudian, suami berangkat berlayar. Jadi saya dan dia menjalani hubungan LDR selama 8 bulan. Kenal di dunia nyata selama 3 minggu. Menjalani LDR selama 8 bulan. Bulan ke-9 memutuskan menikah.

Bilang saya 'gila'. Memang. Tapi 'kegilaan' saya kala itu ternyata di dukung oleh orang tua saya. Tanpa mengatakan YA atau TIDAK. Diam-diam mereka merestui pilihan saya saat itu. Subhanallah..

6 Oktober 2012
Lamaran pun diadakan dirumah. Pihak keluarga suami datang kerumah. Tentu saja, kala itu suami tidak ikut datang. Dia masih berada di Italia. Jadilah acara lamaran diwakilkan pihak keluarganya.

"Kamu yakin nduk, menerima Lukman sebagai calon suami kamu? Kamu sudah mantap?" tanya Ayah Lukman padaku.

"InsyaAllah siap," jawabku singkat sambil tersipu.

"Ya sudah. Kalau memang kalian sudah sama-sama mantap. Saya hanya bisa mendoakan. Semoga semua dilancarkan.. Saya merestui kalian. Semoga Allah merestui keputusan kalian," ungkap Ayah Lukman tersenyum lebar.

"Amin yaa rabbal alamin.."

Lamaran pun sah. Saya sudah 'terikat' secara khitbah saat itu. Rasanya campur aduk. Dagdigdug? Tidak juga. Tapi seperti ada perasaan tak percaya. Bahwa saya akan menikah dengan pria yang saya kenal hanya hitungan 3 minggu. Tanpa restu dari orang tua. Tidaklah mungkin saya sampai pada titik tersebut. Jadi, jangan pernah sepelekan restu dari orang tua.

Awal saya mengenalkan suami kepada kedua orang tua. Dalam hati saya hanya berkata.

Kalau memang orang tua setuju dengan pilihan saya ini. Saya akan maju memperjuangkan ke gerbang pernikahan. Tapi, kalau dari awal orang tua sudah keberatan dan tidak setuju dengan pilihan saya. Saya akan mundur dan berhenti. Tanpa harus ada perjuangan apapun. Mengapa? Karena saya terlalu percaya. Bahwa restu orang tua itu ialah juga restu Ilahi :)

picture was taken from here