Incoming Call
Lucky Draw
+6285647xxxxx (Mobile)
Answer Ignore
Answer
Klik!
"Neng, saya sudah di depan rumah. Kamu keluar ya.."
"Ok.."
Sejak setahun yang lalu. Kami tidak pernah bertatap muka sekalipun. Sekalipun dia adalah dokter keluarga besarku. Namun, takdir tidak pernah memberi kami kesempatan untuk bertemu. Lucunya, detik ini takdir memberi kami kesempatan bertemu.
"Assalamualaikum.. " Sapa pria yang sudah lama berdiri di luar pagar rumahku. Pria ini tersenyum lebar kepadaku. Senyum khas miliknya tidak pernah berubah. Selalu mengundang orang lain untuk membalas senyuman lebih lebar lagi.
"Waalaikumsalam.. Dari tadi kamu berdiri disitu?" kataku tersenyum sambil berjalan menuju pagar. Membuka pagar, dan mempersilahkan pria ini memasuki halaman rumah.
"Baru saja sampai. Mas Arief sudah pulang?" tanyanya hati-hati.
"Belum. Tadi dia telepon katanya ada meeting sampai malam. Hmm.. Ngobrol di teras saja gimana? Gak enak kalau di dalam. Aku lagi sendirian kan. Hehehe.."
Aku berusaha sebisa mungkin untuk meredam gejolak yang entah apa namanaya. Mendadak perutku terasa mual. Sangat mual. Melihat wujudnya ada di hadapanku lagi. Nyata. Secara utuh. Membuatku tak berani menatap matanya langsung.
"Iya. Diluar saja. Saya juga hanya sebentar. Mau antar ini saja.." katanya sambil mengulurkan undangan yang masih terbungkus rapi. Cover undangan itu bewarna putih gading. Ada bentuk hati warna merah tepat di bagian tengah cover.
"Oh, gitu. Jadi gak duduk dulu?" tanyaku sambil menerima undangan dari tangannya. Aku linglung harus menanggapi kedatangannya bagaimana. Aku bingung harus mengeluarkan kata apa untuk merespon kabar bahagia darinya.
"Gak. Saya harus antar undangan ke beberapa klinik lagi. Minggu depan saya mampir lagi. Sekalian bawa Zahra. Dia mau kenal sama kamu, Neng. Penasaran ingin tahu seperti apa yang namanya Indira. Hihihi.."
"Hah? Kamu cerita apa soal aku ke Zahra?"
"Cerita semuanya... "
Ucapannya mengambang. Aku pun tak mampu merespon perkataan dia barusan. Aku malah sibuk menahan mualku yang semakin menjadi-jadi. Sial! Jangan bilang maag keparat ini kumat. Tidak. Tidak saat ini. Come on Indira!
Ucapannya mengambang. Aku pun tak mampu merespon perkataan dia barusan. Aku malah sibuk menahan mualku yang semakin menjadi-jadi. Sial! Jangan bilang maag keparat ini kumat. Tidak. Tidak saat ini. Come on Indira!
"Saya pamit ya," katanya sambil mengangguk pelan. Ia tersenyum. Bahkan tanpa aku membalas senyumannya pun. Dia masih terus tersenyum memandangiku.
"Lucky.. Hmm..." kataku terbata.
"Ya? Kenapa neng?"
"Hmm.. "
"Kamu mau ngomong apa?"
"Lucky.. Aku bahagia. Akhirnya yaa.."
Aku meracau. Aku tak tahu sebenarnya apa yang ingin aku katakan. Kalimatku terpenjara. Dayaku tak ada. Aku bingung harus mengatakan apa. Memberi ucapan selamat tulus untuknya? Berbasa-basi bertanya tentang kehidupannya setahun belakangan? Atau malah memancingnya untuk bercerita soal pernikahannya dengan Zahra.
"Iya, Neng. Makasih ya. Aku senang kamu bahagia. Akan lebih senang lagi lihat kamu selalu cerita tanpa air mata." Lucky menepuk lembut pundak kananku. Mengusapnya perlahan. Lalu menarik kembali tangannya.
"Maaf.. " ucapnya reflek atas tindakan barusan.
" ......... "
Tanpa sadar kedua mataku terasa basah. Ada genanang air yang seketika keluar tanpa diharapkan. Brengsek! Kenapa gue malah cengeng gini. Indiraaaaaaaaaa. Please.Don't ever ever crying in front of him. God, please hold my tears. I can't handle it..
"Neng.. Hey, don't cry. Everything is gonna be fine. You deserved someone much better than me. He's your husband."
"Lucky.. Aku bahagia. Akhirnya yaa.."
Aku meracau. Aku tak tahu sebenarnya apa yang ingin aku katakan. Kalimatku terpenjara. Dayaku tak ada. Aku bingung harus mengatakan apa. Memberi ucapan selamat tulus untuknya? Berbasa-basi bertanya tentang kehidupannya setahun belakangan? Atau malah memancingnya untuk bercerita soal pernikahannya dengan Zahra.
"Iya, Neng. Makasih ya. Aku senang kamu bahagia. Akan lebih senang lagi lihat kamu selalu cerita tanpa air mata." Lucky menepuk lembut pundak kananku. Mengusapnya perlahan. Lalu menarik kembali tangannya.
"Maaf.. " ucapnya reflek atas tindakan barusan.
" ......... "
Tanpa sadar kedua mataku terasa basah. Ada genanang air yang seketika keluar tanpa diharapkan. Brengsek! Kenapa gue malah cengeng gini. Indiraaaaaaaaaa. Please.Don't ever ever crying in front of him. God, please hold my tears. I can't handle it..
"Neng.. Hey, don't cry. Everything is gonna be fine. You deserved someone much better than me. He's your husband."
Setelah mual. Kini dadaku juga terasa sesak. Ada haru menyeruak dengar ucapannya barusan. Dia begitu menghormati statusku kini sebagai seorang istri. Dia bisa menjaga dirinya di hadapanku. Aku yang bodoh. Kenapa meneteskan air mata?
"Saya pamit. Jaga kesehatan kamu. Jangan telat makan. Jangan sering begadang. Ingat tensi kamu. Yah?"
Lucky menunduk mendekati wajahku. Memastikanku untuk membalas tatapannya. Aku mengusap air mata yang masih mengalir di kedua pipiku. Tidak ada kontak fisik. Tidak ada sentuhan antar kulit sekalipun. Pun tadi dia menepuk pundahku, itu karena reflek. Lucky, adalah pria baik yang selalu menjaga kehormatanku. Aku merasa terlindungi jika di dekatnya. Bahkan dengan statusku yang sudah menjadi istri orang sekalipun. Dia menjagaku dengan caranya.
"Iya. Happy for you.. Semoga lancar sampai hari H. InsyaAllah aku datang dengan mas Arief," jawabku sambil menatap matanya. Memberanikan diri untuk menatap wajah itu lekat-lekat. Mungkin ini adalah waktu terakhirku untuk menatapnya dengan cara tak biasa. Takdir memberiku kesempatan untuk ini. Ya, untuk ini.
"Aku tunggu kedatangan kamu dan mas Arief..." ungkapnya sambil berjalan menuju pagar.
"Assalamualaikum.. Salam untuk suamimu ya, Neng."
"Waalaikumsalam.. Iya. Hati-hati.." jawabku.
Dalam hitungan detik. Mobilnya melaju menjauhi pagar rumahku. Ia pergi dengan kabar bahagia. Begitu bahagianya sampai aku pun menangis. Aku melirik undangan yang sedari tadi berada di genggaman tanganku.
He's getting marry?
picture was taken from here
